Sobat muda, pastinya tahu dong, pemeran utama film
Titanic? Yup, siapa lagi kalau bukan Ronaldo Dicaprio. Banyak wanita yang
terpikat ketampanannya. Siapa juga yang gak tahu nama Keanu Reeves, Nicholas
Saputra, dan sederet artis papan atas lainnya yang tergolong
"ganteng" menurut para wanita pada umumnya. Ganteng, sih. Tapi apakah
mereka dijamin bakal masuk syurga?????????????????????
Itu dia pertanyaan penting yang harus kita
renungkan. Rata-rata orang, terutama kaum hawa, tergila-gila pada artis
tersebut. Bahkan, pernah kejadian di suatu kota, ada salah seorang artis yang
sedang konser, dengan menggadaikan rasa malunya, sang gadis pun mencium pipi
artis tersebut di hadapan banyak orang. Na'udzu billah min dzalik! Segitunya!
Padahal artis yang diidolakan tersebut belum tentu masuk syurga, kan?! Nah,
lho. So, jangan sampai kita terjebak, deh.
Sobat muda, bila kita mau mencermati sejarah,
ternyata ada pemuda ganteng bin tampan yang dijamin masuk syurga. Pemuda ini
berada dalam madrasah bimbingan Rasulullah SAW. Siapa hayo??? Yup, siapa lagi
kalau bukan MUS'AB BIN UMAIR. Dah ganteng, tampan, kuat pendirian, cerdas,
dijamin masuk syurga lagi. Subhanallah! Benar- benar layak untuk jadi
idola.Nah, sobat muda yang laki-laki, wajib mencontohnya, ni. Biar jadi idola
kaum hawa. Eits, awas salah niat! Yang betul, agar Allah SWT ridha terhadap
kita. So, kita simak kisah lengkap beliau, yuk!
Mus’ab bin Umair adalah
sahabat Rasulullah S.A.W. yang sangat berjasa dan menjadi teladan bagi umat
Islam sepanjang zaman. Sebelum memeluk Islam, dia berperawakan lemah lembut,
suka berpakaian perlente, mahal dan indah. Malah dia selalu bersaing dengan
kawan-kawannya untuk berpenampilan menarik. Keadaan dirinya yang mewah dan
wajahnya yang tampan, menyebabkan Mus’ab menjadi idola para gadis di Makkah.
Mereka senantiasa berangan-angan untuk menjadi isterinya.
Mus’ab sebenarnya adalah anak yang paling disayangi ibunya, dibandingkan dengan adiknya yang lain. Apa saja permintaannya tidak pernah ditolak. Oleh karena itu, tidak heran apabila ibunya begitu marah, setelah mengetahui Mus’ab telah menganut Islam. Ibunya telah mengurung dan menyiksa Mus’ab selama beberapa hari, dengan harapan dia akan meninggalkan Islam. Bagaimanapun tindakan ibunya, tidak sedikit pun melemahkan keyakinan Mus'ab. Bujukan dan ancaman ibunya tidak dipedulikan..
Tindakan ibunya tidak
sedikit pun menimbulkan rasa takut pada Mus’ab, sebaliknya dia tidak bosan
membujuk ibunya agar memeluk Islam, karena mus'ab sayang pada ibunya. Mus’ab
melakukan berbagai usaha, tetapi semua tindakannya hanya menambah
kemarahan dan kebencian ibunya.
Pada suatu hari Mus’ab
melihat ibunya dalam keadaan pucat lesu. Dia pun menanyakan sebabnya. Kata ibunya,
dia telah berniat di hadapan berhala bahwa dia tidak akan makan dan minum,
sampai Mus’ab meninggalkan Islamnya. Coba bayangkan bila sobat muda berada di
tempat Mus’ab ketika itu, berhadapan dengan ibu yang hanya hampir tinggal
tulang dan kulit? Apa yang akan sobat muda lakukan? Apakah akan menuruti
keinginan ibunda? Dengarlah jawaban Mus’ab kepada ibunya: “Andaikata ibu
mempunyai seratus nyawa sekalipun, dan nyawa ibu keluar satu demi satu, niscaya
saya tetap tidak akan meninggalkan Islam sama sekali”. Subhanallah!
Akhirnya, Mus'ab di
usir oleh ibunya. Tinggallah Mus’ab bersama-sama Rasulullah dan sahabat-sahabat
yang masih sangat kekurangan ketika itu. Untuk meneruskan kehidupannya,
Mus’ab berusaha sendiri bekerja mencari nafkah dengan menjual kayu api. Ketika berita ini sampai kepada ibunya, dia merasa amat marah dan malu, karena
kebangsawanannya telah dicemari oleh sikap Mus’ab. Adik-beradik Mus’ab juga
sering menemui dan membujuknya supaya kembali menyembah berhala. Tetapi Mus’ab
tetap mempertahankan keimanannya.
Sewaktu ancaman dan
siksaan kaum Quraisy ke atas kaum Muslim makin bertambah, Rasulullah telah
memerintahkan supaya sebagian sahabat berhijrah ke Habysah. Mus’ab turut
bersama-sama rombongan tersebut. Sekembalinya dari Habsyah, keadaan beliau
semakin berubah. Kurus kering dan berpakaian compang-camping lantaran
penyiksaan Quraisy ke atasnya. Keadaan itu menimbulkan rasa sedih di dalam hati
Rasulullah. Kata-kata Rasulullah mengenai Mus’ab sering disebut-sebut oleh
sahabat:
“Segala puji bagi bagi
Allah yang telah menukar dunia dengan penduduknya. Sesungguhnya dahulu saya
melihat Mus’ab seorang pemuda yang hidup mewah di tengah-tengah ayah bundanya
yang kaya raya. Kemudian dia meninggalkan itu semua karena cinta kepada Allah
dan Rasul-Nya”.
Ketika, ibu Mus’ab
mengetahui kepulangannya, dia membujuk anaknya supaya kembali kepada berhala.
Dia mengutus adik Mus’ab yang bernama Al-Rum untuk memujuknya. Namun Mus’ab
tetap dengan pendiriannya. Bagaimanapun tanpa sepengetahuan ibunya, Al-Rum juga
sudah memeluk Islam tetapi dia merahasiakannya.
Mus’ab, adalah
orang pertama diutus oleh Nabi ke Madinah untuk berdakwah. Hasil dakwahnya,
pada tahun tersebut 12 orang Madinah Masuk Islam dan bertemu dengan Nabi di
Musim Haji untuk mengikat janji setia dengan Nabi(Perjanjian A’qabah 1). Pada
tahun berikutnya 70 lagi orang Madinah masuk Islam dan datang ke Mekah di musim
Haji untuk berjanji setia dengan Nabi(Perjanjian A’qabah 2).Prestasinya yang
cemerlang inilah, menjadi pembuka jalan kepada Nabi dan para sahabat untuk berhijrah
ke Madinah. Sewaktu terjadi perang Uhud, Mus’ab ditugaskan memegang
bendera-bendera Islam. Ketika terjadi kekalahan di pihak pasukan muslimin,
Mus’ab tetap tidak beranjak dari tempatnya dan menyeru: Muhammad adalah Rasul,
dan sebelumnya telah banyak diutuskan rasul.
Ketika itu, seorang
tentara berkuda Quraisy, Ibn Qamiah menyerbu ke arah Mus’ab dan menebas tangan
kanannya yang memegang bendera Islam. Mus’ab menyambut bendera itu dengan
tangan kirinya sambil mengulang-ulang seruan tadi. Seruan itu menyebabkan Ibn
Qamiah bertambah marah dan menebas tangan kirinya. Mus’ab terus menyambut dan
memeluk bendera itu dengan kedua-dua lengannya yang buntung. Akhirnya Ibn
Qamiah menikamnya dengan tombak. Maka gugurlah Mus’ab sebagai syuhada’ Uhud. Al-Rum,
Amir ibn Rabiah dan Suwaibit ibn Sad telah berusaha mendapatkan bendera
tersebut daripada jatuh ke bumi. Al- Rum telah berjaya merebutnya dan
menyaksikan sendiri syahidnya Mus’ab. Al- Rum tidak dapat lagi menahan
kesedihan melihat kesyahidan abangnya.
Tangisannya memenuhi
sekitar bukit Uhud. Ketika hendak dikafankan, tidak ada kain yang mencukupi
untuk menutup jenazahnya. Keadaan itu menyebabkan Rasulullah tidak dapat
menahan kesedihan hingga bercucuran air mata baginda. Keadaannya digambarkan
dengan kata-kata yang sangat masyhur:
Apabila ditarik kainnya
ke atas, bagian kakinya terbuka. Apabila ditarik kainnya ke bawah, kepalanya
terbuka. Akhirnya, kain itu digunakan untuk menutup bagian kepalanya dan
kakinya ditutup dengan daun-daun kayu.
Sobat muda, demikianlah
kisah kekuatan pribadi seorang hamba Allah SWT,dalam mempertahankan kebenaran
dan kesucian Islam. Beliau jugalah merupakan pemuda dakwah yang pertama
mengetuk setiap pintu rumah di Madinah sebelum berlakunya hijrah.
Subhallah! Kisah yang
mengharukan dan membanggakan, sobat muda. Betapa sangat tiada arti, bila
ketampanan dan kecantikan yang kita miliki, tidak mampu menghantarkan kita
meraih Syurga-Nya. Rugi berat, guys. So, bercerminlah dari Mus'ab Bin Umair!
Bercermin untuk jalani hidup lebih baik.
Langsa, 9 Maret 2012
By. Wie_Zahratunnisa
Posting Komentar