![]() |
dakwatuna.com
– Saya
akan memulai tulisan ini dengan beberapa firman dari Allah dan petuah
kekasihNya, Rasulullah SAW
“…maka
berlomba-lombalah kamu dalam hal kebaikan…” (QS Al-Baqarah 148)
“…sungguh
yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling tinggi ketaqwaannya…” (QS
Al-Hujurat 13)
“…sebaik-baik
manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.” (HR Bukhari)
Kawan,
tiga buah hujjah di atas sedang berbicara pada kita tentang satu hal, prestasi.
Prestasi adalah suatu hal yang sangat penting,
sehingga dia menjadi pantas diserukan dalam Al-Qur’an dan hadits Rasul.
Berprestasi sebenarnya menjadi tuntutan bagi setiap muslim, karena harga
seorang muslim di hadapan Allah nantinya ditentukan oleh prestasi taqwa yang
dia ukir selama hidup di dunia. Allah dan Rasul memberikan sebuah pattern bahwa
yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah adalah yang paling tinggi prestasi
taqwa-nya.
Tapi
sadar kita atau tidak, ada saudara kembar yang selalu hadir bersama prestasi,
yaitu prestise, kebanggaan. Prestasi dan prestise adalah dua hal yang mungkin
akan selalu hadir bersama. Ketidakbijakan kita untuk menempatkan mereka dengan
baik bisa berujung petaka bagi kita, kalau tidak akan di dunia, mungkin petaka
di akhirat. Yang harus kita sadari adalah bahwa prestise hanyalah merupakan
konsekuensi logis ketika prestasi luar biasa telah terukir.
Prestise seharusnya
bukanlah sesuatu yang menjadi alasan dan membuat kita mau bergerak. Lihatlah
apa yang didapatkan oleh manusia-manusia sekelas Abu Bakar Sidq, Khalid bin
Walid, Muhammad Al-Fatih, Thariq bin Ziyad, sampai Hasan Al Banna. Mereka
adalah manusia-manusia yang bergerak karena dorongan nuraninya, karena
kecintaan dan kepatuhan pada Tuhannya, mengukir prestasi-prestasi yang sangat
agung, sehingga prestise adalah suatu hal yang hadir dengan sendirinya,
bukanlah hal yang mereka kejar.
Namun
sebaliknya, mungkin banyak di antara yang sering terjebak pada kondisi dimana
kita sering berpikir prestise terlebih dahulu, sering berpikir ketenaran atau
keterkenalan di awal. Sehingga tak jarang fokus pada prestise itulah yang
membuat kita tak pernah mengukir prestasi, ataupun kalau prestasi itu pernah
hadir hanya akan menjadi prestasi di mata manusia saja, tidak di mata Allah.
Bukankah kita sudah sama-sama tahu, betapa penting yang namanya niat, betapa
sangat menentukan yang namanya niat, seperti yang diungkapkan dalam Hadits
Arba’in yang pertama, “sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya…”.
Jika prestise menjadi niat utama kita bergerak, maka akan sangat rugi lah kita,
karena ia hanya akan menjadi fatamorgana saja, begitu “wah” di mata manusia
tapi nol besar di mata Allah.
Kuingin
ingatkan pada pribadi ini dan pada kawan-kawan semua, berhati-hatilah. Luruskan
lagi niat di setiap gerak dan ibadah kita, di setiap tegak dan sujud kita.
Buang jauh-jauh perasaan mau bergerak karena hanya mengejar sebuah prestise,
tapi bergeraklah karena kita sama-sama ingin berprestasi di mata Allah. Semoga
setiap helaan nafas kita menjadi bagian prestasi yang akan terukir indah dan
akan menjadi penolong kita nanti di hadapan Allah.
Terakhir,
sebuah pertanyaan renungan, sudah adakah prestasi yang kita ukir sampai detik
ini yang bisa kita banggakan di hadapan Allah kelak??’
Wallahu’alam
bisshawab

Posting Komentar