Artikel Terbaru :

Ada Apa Dengan Cinta???

Gadis tertunduk. Matanya basah. Isak tangis sesekali masih terdengar. Gelegar petir serasa menyambar telinganya. Papa dan Mama marah besar, mengetahui “mahkota” nya telah direnggut oleh sang pacar, atas nama cinta. Seluruh keluarga   menanggung malu, karena sang Gadis telah “berisi”. Nasi sudah menjadi bubur. Tinggal penyesalan sepanjang umur. 

Sobat muda, itulah potret sebagian remaja jaman sekarang. Atas nama cinta, mahkota kehormatan pun tergadaikan. Atas nama cinta, rasa malu pun tercerabut habis dari dalam jiwa. Sungguh miris, sobat muda! Lantas, salahkah cinta??? Ada apa dengan cinta???

Sobat muda, memiliki rasa cinta adalah fitrah.  Bahkan Allah SWT menciptakan kehidupan ini atas dasar cinta. Namun, sekarang ini cinta mengalami distorsi makna alias penyempitan makna. Betapa tidak. Jaman sekarang, cinta hanya diartikan sebagai hubungan dengan lawan jenis. Bahasa gaulnya pacaran. Tiap kali kata cinta tercetus, pasti arahnya ke pacaran. Kok bisa ya??? Lha wong sekarang ini, kita di bombardir arti cinta yang salah kaprah.
Sinetron, lagu, film, bahkan iklan sekalipun, menayangkan makna cinta yang sempit. Akhirnya, image yang terbentuk dari mulai anak TK-mahasiswa, cinta=pacaran.Lebih miris lagi, pacaran diartikan sebagai hubungan super bebas. Bebas pergi berduaan, bebas melakukan apa saja. Sampai akhirnya seks bebas. Naudzu billah min dzaalik! Makna cinta jadi tidak sakral lagi.

Rasanya, malu kali bila teringat  cerita nenek. Ketika masih SMP dulu, nenek sering menceritakan tentang kisah cinta dengan kakek. Asli hanya saling kirim surat yang ditulis di atas daun (waktu itu harga kertas masih mahal sekali). Orangtua nenek, tidak mengijinkan nenek pergi berduaan sama kakek. Bila datang ke rumah, kakek dan nenek hanya ngobrol. Itu pun dibatasi dinding bambu. Subhanallah! Mereka sangat menjaga kesakralan cinta, sobat muda.

So, agar kita bisa menjaga kesucian cinta, kita kenali yuk, peringkat-peringkat cinta!
Menurut Syaikh Ibnul Qayyim, seorang ulama di abad ke-7, ada enam peringkat cinta (maratibul-mahabah), yaitu:

1. Peringkat ke-1 dan yang paling tinggi/paling agung adalah tatayyum, yang merupakan hak Allah semata.
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Rabbul alamiin. Dan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah (S.2: 165) Jadi ungkapan-ungkapan seperti: Kau selalu di hatiku, bersemi di dalam qalbu atau Kusebutkan namamu di setiap detak jantungku, Cintaku hanya untukmu, dll selayaknya ditujukan kepada Allah SWT ,  karena Dialah yang memberikan kita segala nikmat/kebaikan sejak kita dilahirkan, bahkan sejak dalam rahim ibu.
Jangan terbalik, sobat muda!  Baru dikasih secuil cinta dan kenikmatan sama si doi, kita sudah mau menyerahkan jiwa raga kepadanya yang merupakan hak Allah. Lupa kepada Pemberi Nikmat. Maka nikmat apa saja yang ada pada kalian, maka itu semua dari Allah (QS  Al Baqarah: 165).

2. Peringkat ke-2; isyk yang hanya merupakan hak Rasulullah saw.
Cinta yang melahirkan sikap hormat, patuh, ingin selalu membelanya, ingin mengikutinya, mencontohnya, dll, namun bukan untuk menghambakan diri kepadanya. Katakanlah jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku (Nabi saw) maka Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. (QS. Ali Imran: 31)

3. Peringkat ke-3; syauq yaitu cinta antara mukmin dengan mukmin lainnya.
Antara suami istri, antara orang tua dan anak, yang membuahkan rasa mawaddah wa rahmah.

4. Peringkat ke-4; shababah yaitu cinta sesama muslim yang melahirkan ukhuwah Islamiyah.

5. Peringkat ke-5; ithf (simpati) yang ditujukan kepada sesama manusia. Rasa simpati ini melahirkan kecenderungan untuk menyelamatkan manusia, berdakwah, dll.

6. Peringkat ke-6 adalah cinta yang paling rendah dan sederhana, yaitu cinta/keinginan kepada selain manusia: harta benda. Namun keinginan ini sebatas intifa (pendayagunaan/pemanfaatan).

Nah, lho. Pacaran gak ada dalam peringkat-peringkat cinta, kan?! Kenapa hayo, sobat muda? Jawabannya, karena pacaran=budaya jahiliyah. Alias budayanya orang-orang bodoh, yang tidak mengenal peradaban. Kalau kita ikut-ikutan pacaran, berarti kita meniru budaya orang-orang yang tidak mengenal peradaban.

Jadi, gimana caranya dong, masa’ mau nikah gak kenal calon suami/ istri? Pacaran kan untuk mengenal lebih jauh calon pasangan??? Sobat muda, gak ada buktinya pacaran untuk lebih mengenal calon pasangan.  Banyak yang pacaran bertahun-tahun, putus juga di tengah jalan. Saat pacaran, yang banyak berbicara adalah syaitan. Tahu sendiri kan, syaitan selalu berusaha agar kita jatuh ke jurang neraka. Iiiiiiiiihhhhh, serem ya. So, jangan coba-coba pacaran!

Islam, sebagai agama yang paling sempurna, sudah mengatur masalah cinta dengan konsep yang sangat indah. Bila sudah siap menikah, Islam memperbolehkan ta’aruf. Itu pun harus ditemani orangtua atau orang yang bisa dipercaya. Tentunya yang disampaikan dalam ta’aruf adalah hal-hal mendasar menuju jenjang pernikahan. Beda kali dengan pacaran, yang hanya menuruti hawa nafsu. Ya jelas beda-lah jalan Syaitan sama jalan Islam. Jadi bila belum siap menikah, jangan coba-coba ta’aruf, ya, sobat muda. Khawatir jadi melangkah ke pacaran dan jatuh ke lembah dosa. Rasulullah SAW, menganjurkan banyak berpuasa bagi yang belum sanggup menikah. Puasa dapat meredam semua hawa nafsu yang ada pada diri manusia. Tentunya, puasa yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, dong. Bukan puasa asal-asalan. Asal perut sudah puasa, tapi mata dan telinga diumbar melakukan hal-hal buruk.

Sobat muda, cinta itu sakral alias suci. Maknanya pun tidak sempit. Yuk, kita jaga kesucian cinta ! Cinta pada Allah SWT, menjadikan kita takut, tunduk, dan taat pada-Nya. Cinta kita pada Rasulullah SAW, menjadikan kita, ber- Shalawat pada beliau dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Cinta pada orangtua, menjadikan kita, hormat, taat, sayang, dan memberikan prestasi-prestasi yang membanggakan orangtua.  Cinta pada saudara sesama muslim, menjadikan kita peduli pada nasib saudara sesama muslim di seluruh penjuru dunia. Minimalnya dengan senantiasa mendoakan mereka. Cinta pada bumi ini, menjadikan kita rajin menanam pohon dan senatiasa berusaha agar lestari. Cinta pada kehidupan, menjadikan kita banyak beramal kebaikan, sebagai bekal menuju kehidupan hakiki yang kekal di Syurga.



Subhanallah! Cinta itu indah, sobat muda. So, always keep our loves! The true loves.

Langsa, 5 Febuari 2012
By. Wie Zahratunnisa, dari berbagai sumber.



Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Mr Popo
Copyright © 2014. Islamic Youth Care Langsa - All Rights Reserved
Template Edited by P. Ardiansyah
Proudly powered by Blogger